Posts

Pemeran Sinta

Image
Dari balik pintu aku mendengar suara hitungan. Imajiku langsung berkelana, membayangkan dirimu memainkan sampur. Melangkah bergerak gemulai mengikuti hitungan. Menarikan jiwa sinta agar peranmu semakin mantap. Tidakkah kau tahu wahai pemeran dewi sinta di pelataran candi Prambanan, aku mencintaimu seperti dirimu mencintai seni tari. Itulah sebabnya aku terpaku, mengurungkan niatku untuk mengetuk pintu karena tidak mau mengganggu percumbuanmu dengan seni tari yang kau cintai.             Mendengar suara hitungan gerakmu dari balik pintu, Aku jadi teringat bagaimana kita dulu pertama kali bertemu.             Kala itu minggu-minggu pertama aku tinggal di kota Jogja dan disambut oleh gerimis. Aku bergegas mengangkat jemuran yang hampir kering di pekarangan. Tidak hanya aku, seluruh penghuni indekos yang lain berhamburan menyelamatkan cucian masing-masing. Kecuali dirimu. ...

Malam, Aku Jatuh Cinta Kepadamu

Image
Malam tidak pernah sepekat ini sebelumnya Dulu, malam selalu cantik berias kerlip bintang Dulu, malam selalu melengkungkan senyum lewat bulan sabit Dengan jemariku aku selalu mencoba merayumu Lewat hitungan kerlip yang hanya mampu aku tunjuk dari jauh Meski hitam, malam tidak pernah terasa kelam Itu bagiku, dulu.

Suatu Malam di Merr

Image
Pernahkah kalian merasa kecewa dan bangga dalam waktu yang sama? Jujur, aku baru saja merasakan hal aneh tersebut. Hal langka yang dengan beruntungnya aku alami. Kalian penasaran bagaimana aku bisa merasakan dua perasaan bertolak belakang itu dalam satu masa? Baiklah, coba lihat apa yang aku lihat, coba rasakan apa yang aku rasa. Aku akan bercerita.             Ini adalah kisah yang aku sendiri tidak mengerti bagaimana awal mulanya. Tahu-tahu aku sudah melihat tubuh pria remaja tergeletak di tepi jalan bersimbah darah. di sampingnya ada seorang pria berkumis lebat dengan air mata seperti air terjun. Mukanya merah padam, tak terkecuali matanya yang becek itu. Sebuah golok berbalur darah segar ada di tangan kanan pria yang menangis itu. Aku melihat pertumpahan darah itu di jalan Merr tepat ketika bulan melingkar penuh dan deru mesin seperti musnah dari muka bumi.

Penyu

Image
“Penyu, kita mau berlibur kemana sih?” Tanyaku penuh selidik.             Dia hanya diam menampakkan senyum. Tak menggubris dan tetap mengemasi barang-barang ke dalam ransel.             “Liburan kemana si nyu?” Tanyaku lagi.             “Ada deh. Udah cepet kemasi barangmu!”             Ada hembusan nafas keluar. Aku menyerah. Aku turuti saja apa maunya. Dengan rasa penasaran yang mendalam, aku ikut mengemasi barang-barangku ke dalam ransel yang lain. Penyu memang selalu seperti itu. Banyak diam dan gemar sekali membuat kejutan-kejutan kecil untukku.

Surat Pengunduran Diri

Image
Lelah namun tetap terjaga. Jemari menari menoreh luka. Pendar cahaya dari layar laptop, satu-satunya yang menyemangati. Sudah cukup aku merana. Sudah cukup aku bersabar meladeni rentetan tugas yang mencekik tanpa ampun. Lewat surat yang aku tulis ini, aku memutuskan berhenti. *** Surabaya, 13 November 2014 Yth. Bapak Direktur di- Ruangan pribadinya yang nyaman             Selamat Pagi Bapak.             Sebelumnya mohon maaf, Saya tidak tahu aturan surat-menyurat. Tapi saya tahu betul, surat adalah salah satu cara seseorang mengatakan apa yang layak untuk diabadikan. Sebab yang akan saya sampaikan ini adalah langkah krusial untuk hidup saya ke depan. Untuk itu hal ini perlu disampaikan dengan bahasa abadi. Bukan dengan bahasa lisan yang sekelebat didengar, lalu hilang tersapu waktu.             Baiklah, sa...

Kotak Pos Hitam

Image
Peristiwa ajaib ini dibekukan puluhan kamera. Aku sudah terbiasa. Sudah genap sedasawarsa diriku menjadi pusat perhatian tiap tanggal 13 November. Semua orang menganggapku ajaib, sebab tubuhku yang biasanya berwarna orange, secara misterius berubah warna menyerupai bola matamu: hitam dan bening.             Mereka pikir, peristiwa ini adalah keajaiban yang penuh misteri. Andai saja mereka tahu bahwa aku yang mereka anggap mati, sebenarnya memiliki jiwa yang masih hidup—mungkin peristiwa ini dianggap lumrah. Warna tubuhku menghitam sebab aku berduka. Duka menahun yang sangat mendalam hingga warnaku menjadi kelam karena penyesalan.

Pergantian Tahun

Beragam topik aku dengar sejak kota ini masih milik kompeni. Sudah ribuan pasang kaki dan roda yang menumpang di punggungku, menebar kisah sepanjang melintas. Manusia memang tidak pernah bisa diam bercakap. Kendati mulutnya diam, jauh di dalam sana mereka selalu bercakap dengan batinnya sendiri. Dengan kekasih yang seolah memiliki kemampuan telepati. Dengan tuhan yang mereka imani.             Hari ini adalah penghujung tahun. Tepat pukul tiga sore tadi sampai hari pertama tahun 2015 nanti, punggungku diharamkan untuk dilewati deru mesin. Kau tahu, ini membuat pendengaranku terhadap kisah para manusia semakin peka.

Rak Buku

Sejak siang tadi, mendung memang sudah menggantung. Pekarangan yang jarang menjadi arena bermain semakin menunjukkan kelesuhannya di balik kelabu langit. Menginjak senja, mendung tetap mendominasi hingga semburat jingga menyerah pada kepungan awan kelabu. Selepas adzan maghrib berkumandang di selah deru halilintar, hujan lebat turun. Aku selalu suka hujan di malam hari. Hawa dinginnya seolah isyarat yang diturunkan Allah untuk menguji kehangatan keluarga kita. Di sinilah, di saat alam memaksa kita untuk berlindung dari basah dan hawa dingin, kehangatan keluarga bisa menjadi perapian tanpa bara. “Nak, sini.” Dari arah meja makan, Umi memanggilku. “Ayuk kita ngeteh bareng!” “Inggih, Umi. Sebentar. Nanti saya nyusul.” Komik Death Note volume 11 yang ada di genggamanku sudah sampai pada halaman 178. Kurang lima halaman lagi aku akan menemui kata tamat. Pikirku, akan terasa tanggung jika aku beralih ke meja makan untuk minum teh. Aku memutuskan tetap pada posisiku. Duduk bersandark...

Pulang

Tuhanku Ku ingin bercerita Ku tunduk bersujud Ku mulai berdoa Lelahnya jiwaku Beratnya langkahku Tuhanku Ku rindu tawaku yang dulu Kejujuran kebenaran yang dulu ku tahu

Panik

Sekujur kaki kananku dibalut perban. Sejak dua hari lalu, sebagian besar kegiatanku hanya berbaring di atas ranjang rumah sakit yang dingin. Aku baru saja terbangun dari tidur. Mataku melirik ke meja di sisi ranjang. Ada deretan obat, segelas air putih, jam waker yang menunjukkan pukul 12.15 malam, dan HP yang sedang dicharge. Aku meraih HP, ada tiga belas panggilan tidak terjawab.           Dengan segera aku mengirim pesan pada nomor yang teleponnya tak sempat terangkat, “Tenang saja, aku sudah minum obat kok.”           Sejak aku dirawat di rumah sakit karena kecelakaan, Dia memang menjadi sangat perhatian. Pagi, siang, malam, ia selalu meneleponku sekedar untuk mengingatkan minum obat. Tak pernah telat, bahkan lebih dulu dari perawat yang memang punya tugas untuk itu.