Kejutan di Hari Spesialmu

on Kamis, 07 September 2017
Source: https://vikalinka.files.wordpress.com/2013/09/best-group.jpg
Sengaja aku tak membenamkan tubuhku di selimut. Mataku masih terjaga. Berkedip, seiring bunyi tik tik dari jam dinding. Aku menantimu pulang. Pulang ke rumah yang hanya menjadi tempatmu singgah kala malam hampir pagi, dan pergi kala pagi hampir siang. Mungkin bagimu, rumah hanya tempat untuk tidur, bukan tempat untuk berbaur. Tapi bagiku itu bukan masalah, sebab berbaur denganmu tak perlu banyak bercengkrama atau bertegur sapa. Berbaur denganmu adalah ketika kau terlelap, dan aku hanya menatap raut lelahmu.
            Sekarang sudah pukul sepuluh lewat empat puluh delapan menit. Dirimu belum juga datang. Sekarang ini sudah seharusnya aku terlelap. Tidak, bukan terlelap, lebih tepatnya pura-pura terlelap. Setiap hari aku memang selalu pura-pura tidur. Kenapa? Karena kau pasti akan marah jika aku tidur terlampau malam, sementara aku tidak mungkin tidur nyenyak sebelum memastikan kau baik-baik saja dan kembali ke dekapan hangat rumah kita.

Ibu, Izinkan Aku Jatuh Cinta

on Jumat, 16 Juni 2017

Pada riuh gelombang yang tak pantang tenang
Pada angkuh tebing yang kokoh tak bergeming
Pada kiswah yang tak lantas jumawa mendapat jutaan puja
Pada rekah tabebuya yang semi di tepi jalan kota
Pada terik siang yang mampu membakar daun hingga akar
Pada senja yang mengalihkan lelah, duka, dan entah apa.

Ibu, izinkan aku jatuh cinta
Pada hati yang merangkum itu semua
Jangan bertanya,
Hati siapa yang mampu merangkum itu semua?
Kau akan segera tahu setelah
Kumampu memeluk restumu.




28-05-2017

Ibu dan Bolu Kukus

on Rabu, 21 Desember 2016

Pagi ini sedikit berbeda. Tidak hanya ada aroma segelas kopi, tidak hanya ada aroma roti yang baru mencuat dari mesin pembakar roti. Pagi ini seisi ruang dikepung aroma vanilla, coklat, dan pandan. Entah hari apa ini, yang pasti langit bersih tanpa ada awan sedikitpun. Lalu wajah itu, wajah yang kian hari semakin berkerut tampak begitu merona. Bersinar seolah cerah hari ini bersumber darinya. Sesaat Ibu sadar dengan kehadiranku. Ibu sedikit menoleh dan melempar senyum selepas mengucap selamat pagi. Senyuman itu selalu sama, terasa damai dan menghangatkan meski tanpa sentuh atau pelukan.

Teruntuk 12:12

on Sabtu, 26 November 2016

Kau boleh saja menuduhku membual. 
Tapi hari ini, semesta seolah menampik tuduhanmu. 
Setiap bibir berkata seirama denganku.
Lepas tawa berjamaah sore ini, akankah kau masih menuduhku membual? 

Kurusak Mimpi Putraku

on Sabtu, 28 Mei 2016
Sejak kebodohan dan amarah menguasai diriku, air mata demi air mata selalu mengucur di dalam rumah sederhana kami. Setiap pagi, putra semata wayangku hanya duduk terpaku menatap sekotak krayon dan buku gambar kesayangannya. Melihat peristiwa itu, Kemudian setetes air selalu merayap turun dari sepasang mataku, Juga dari sepasang mata istriku. Saat itu terjadi, istriku dalam tangis yang tertahan kemudian mengatakan, “Untuk apa menyesali nasi yang terlanjur jadi bubur?”

Delapan Ratus Hari Bersamamu

on Sabtu, 30 April 2016

‘Jika hatiku adalah dermaga, lalu apakah akan ada kapal yang senantiasa bersandar, menetap dan tidak akan melaut lagi?’
            Aku mencatat kalimat itu di buku yang selalu aku bawa di kala air laut menyambut sentuhan senja. delapan ratus hari yang lalu, Saat ombak tidak begitu bergemuruh, saat dermaga sunyi tanpa cerita, dan saat sebuah gemercing rantai jangkar yang diturunkan mengusik pendengaran.

Pemeran Sinta

on Rabu, 30 Maret 2016



Dari balik pintu aku mendengar suara hitungan. Imajiku langsung berkelana, membayangkan dirimu memainkan sampur. Melangkah bergerak gemulai mengikuti hitungan. Menarikan jiwa sinta agar peranmu semakin mantap. Tidakkah kau tahu wahai pemeran dewi sinta di pelataran candi Prambanan, aku mencintaimu seperti dirimu mencintai seni tari. Itulah sebabnya aku terpaku, mengurungkan niatku untuk mengetuk pintu karena tidak mau mengganggu percumbuanmu dengan seni tari yang kau cintai.
            Mendengar suara hitungan gerakmu dari balik pintu, Aku jadi teringat bagaimana kita dulu pertama kali bertemu.
            Kala itu minggu-minggu pertama aku tinggal di kota Jogja dan disambut oleh gerimis. Aku bergegas mengangkat jemuran yang hampir kering di pekarangan. Tidak hanya aku, seluruh penghuni indekos yang lain berhamburan menyelamatkan cucian masing-masing. Kecuali dirimu. Entah kenapa saat itu pintu kamarmu tertutup.
            Cucian di depan pekarangan kamarmu memang tak banyak, hanya beberapa helai kaos dan sehelai kain panjang berwarna merah. Sebelum gerimis membuat cucian itu basah, aku