Posts

Kompilasi Karya untuk Memenuhi Mata Kuliah Kritik dan Esai Sastra serta Kreativitas Sastra

Postingan ini dibuat untuk memudahkan melacak karya-karya saya yang harus dinilai dosen demi kelancaran proses studi saya.

Berikut daftar postingan sesuai tugas-tugas yang diberikan, dan dapat dikunjungi dengan mengeklik direct link-nya:


Puisi Pertama: Mimpi yang BersebranganPuisi Kedua: Mata Ibu Tak Pernah Sesumringah Pagi IniCerpen: Lelucon Janur KuningKritik Puisi Di Bandara Internasional Abu Dhabi: Tentang Korupsi dan Tanah Suci - Kritik Puisi Di Bandara Internasional Abu Dhabi Karya M. Shoim AnwarKritik Cerpen Sorot Mata Syaila: Kritik Cerpen Sorot Mata Syaila Karya M. Shoim AnwarKritik Cerpen Tahi Lalat: Merenung Lewat Cerpen Tahi Lalat Karya M. Shoim AnwarKritik Lirik Lagu dengan Tema Perempuan: Perjuangan Wanita dari Zaman Ismail Marzuki Hingga Zaman Beyonce Terima kasih :)

Lelucon Janur Kuning

Mimpiku sudah mati di tangan manusia. Tepat sebelas hari yang lalu, saat langit begitu cerah dan banyak minuman serta senyum merekah. Namun, hanya aku satu-satunya yang tak turut serta. Embusan asap membumbung di teras rumahku. Sangat banyak dan beraroma pop corn caramel. Sejak tadi aku hanya menggerakkan jemariku di atas keyboard. Mencoba meluapkan perasaan melalui tulisan sambil sesekali menghisap vapor. Aku pilih rasa pop corn caramel untuk menemaniku. Mengapa harus pop corn caramel? Sederhana saja, pop corn adalah cemilan untuk menonton film. Di hadapanku, sebuah penjor pernikahan yang telah berwarna coklat masih berdiri tegak. Untuk menonton sisa dari lelucon ini, aku butuh sesuatu yang beraroma pop corn. Bagiku melihat lelucon ini sama seperti menonton film. Mataku terus memandangi penjor janur kuning yang sudah mengering. Terpasang tepat di pagar rumahmu. Rumahmu dan rumahku memang seperti lagu dangdut—lima langkah dari rumah. Rumah kita saling berhadapan. Nasib malangku pasti …

Perjuangan Wanita dari Zaman Ismail Marzuki Hingga Zaman Beyonce (Sebuah Ulasan Lirik Lagu)

Image
Diciptakan alam pria dan wanita Dua mahkluk dalam asuhan dewata Ditakdirkan bahwa pria berkuasa Adapun wanita lemah lembut manja
Wanita dijajah pria sejak dulu Dijadikan perhiasan sangkar madu Namun ada kala pria tak berdaya Tekuk lutut di sudut kerling wanita
Begitulah bunyi lirik Sabda Alam ciptaan Ismail Marzuki yang melegenda itu. Lagu ini rilis pada tahun 1956. Pada liriknya yang terdiri atas dua bait ini, menyimpan pesan pergerakan perempuan yang sangat halus. Pencipta begitu bijak menyampaikan dengan sangat halus bahwa sebenarnya wanita dan pria dilahirkan berbeda. Wanita secara fisik memang lebih lemah dibanding dengan fisik pria, dan itu merupakan sebuah kodrat. Seolah setuju dengan pernyataan tersebut, Ismail Marzuki dengan berani memberi judul karya ciptaannya Sabda Alam. Barangkali, menurutnya perbedaan itu memanglah sebuah takdir, sebuah perbedaan yang alamiah. Pada lirik tersebut sangat jelas akan gambaran patriarki. Kedudukan perempuan selalu dianggap lebih rendah dari pria. Nam…