Ibu dan Bolu Kukus

on Rabu, 21 Desember 2016

Pagi ini sedikit berbeda. Tidak hanya ada aroma segelas kopi, tidak hanya ada aroma roti yang baru mencuat dari mesin pembakar roti. Pagi ini seisi ruang dikepung aroma vanilla, coklat, dan pandan. Entah hari apa ini, yang pasti langit bersih tanpa ada awan sedikitpun. Lalu wajah itu, wajah yang kian hari semakin berkerut tampak begitu merona. Bersinar seolah cerah hari ini bersumber darinya. Sesaat Ibu sadar dengan kehadiranku. Ibu sedikit menoleh dan melempar senyum selepas mengucap selamat pagi. Senyuman itu selalu sama, terasa damai dan menghangatkan meski tanpa sentuh atau pelukan.

Teruntuk 12:12

on Sabtu, 26 November 2016

Kau boleh saja menuduhku membual. 
Tapi hari ini, semesta seolah menampik tuduhanmu. 
Setiap bibir berkata seirama denganku.
Lepas tawa berjamaah sore ini, akankah kau masih menuduhku membual? 

Kurusak Mimpi Putraku

on Sabtu, 28 Mei 2016
Sejak kebodohan dan amarah menguasai diriku, air mata demi air mata selalu mengucur di dalam rumah sederhana kami. Setiap pagi, putra semata wayangku hanya duduk terpaku menatap sekotak krayon dan buku gambar kesayangannya. Melihat peristiwa itu, Kemudian setetes air selalu merayap turun dari sepasang mataku, Juga dari sepasang mata istriku. Saat itu terjadi, istriku dalam tangis yang tertahan kemudian mengatakan, “Untuk apa menyesali nasi yang terlanjur jadi bubur?”

Delapan Ratus Hari Bersamamu

on Sabtu, 30 April 2016

‘Jika hatiku adalah dermaga, lalu apakah akan ada kapal yang senantiasa bersandar, menetap dan tidak akan melaut lagi?’
            Aku mencatat kalimat itu di buku yang selalu aku bawa di kala air laut menyambut sentuhan senja. delapan ratus hari yang lalu, Saat ombak tidak begitu bergemuruh, saat dermaga sunyi tanpa cerita, dan saat sebuah gemercing rantai jangkar yang diturunkan mengusik pendengaran.

Pemeran Sinta

on Rabu, 30 Maret 2016



Dari balik pintu aku mendengar suara hitungan. Imajiku langsung berkelana, membayangkan dirimu memainkan sampur. Melangkah bergerak gemulai mengikuti hitungan. Menarikan jiwa sinta agar peranmu semakin mantap. Tidakkah kau tahu wahai pemeran dewi sinta di pelataran candi Prambanan, aku mencintaimu seperti dirimu mencintai seni tari. Itulah sebabnya aku terpaku, mengurungkan niatku untuk mengetuk pintu karena tidak mau mengganggu percumbuanmu dengan seni tari yang kau cintai.
            Mendengar suara hitungan gerakmu dari balik pintu, Aku jadi teringat bagaimana kita dulu pertama kali bertemu.
            Kala itu minggu-minggu pertama aku tinggal di kota Jogja dan disambut oleh gerimis. Aku bergegas mengangkat jemuran yang hampir kering di pekarangan. Tidak hanya aku, seluruh penghuni indekos yang lain berhamburan menyelamatkan cucian masing-masing. Kecuali dirimu. Entah kenapa saat itu pintu kamarmu tertutup.
            Cucian di depan pekarangan kamarmu memang tak banyak, hanya beberapa helai kaos dan sehelai kain panjang berwarna merah. Sebelum gerimis membuat cucian itu basah, aku

Malam, Aku Jatuh Cinta Kepadamu

on Senin, 28 September 2015
Malam tidak pernah sepekat ini sebelumnya
Dulu, malam selalu cantik berias kerlip bintang
Dulu, malam selalu melengkungkan senyum lewat bulan sabit
Dengan jemariku aku selalu mencoba merayumu
Lewat hitungan kerlip yang hanya mampu aku tunjuk dari jauh
Meski hitam, malam tidak pernah terasa kelam
Itu bagiku, dulu.

Suatu Malam di Merr

on Rabu, 09 September 2015

Pernahkah kalian merasa kecewa dan bangga dalam waktu yang sama? Jujur, aku baru saja merasakan hal aneh tersebut. Hal langka yang dengan beruntungnya aku alami. Kalian penasaran bagaimana aku bisa merasakan dua perasaan bertolak belakang itu dalam satu masa? Baiklah, coba lihat apa yang aku lihat, coba rasakan apa yang aku rasa. Aku akan bercerita.
            Ini adalah kisah yang aku sendiri tidak mengerti bagaimana awal mulanya. Tahu-tahu aku sudah melihat tubuh pria remaja tergeletak di tepi jalan bersimbah darah. di sampingnya ada seorang pria berkumis lebat dengan air mata seperti air terjun. Mukanya merah padam, tak terkecuali matanya yang becek itu. Sebuah golok berbalur darah segar ada di tangan kanan pria yang menangis itu. Aku melihat pertumpahan darah itu di jalan Merr tepat ketika bulan melingkar penuh dan deru mesin seperti musnah dari muka bumi.